IMPLEMENTASI JURNAL KEPUTUSAN DSS PADA MANAJEMEN OPERASIONAL DALAM SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN TINGKAT POLSEK PADA WILAYAH HUKUM POLSEK METROPOLITAN PANCORAN WILAYAH DKI JAKARTA

Kepolisian Negara Republik Indonesia tingkat sektor atau biasa disebut polsek dimana merupakan anakan atau cabang atau subsistem dari Polres Metropolitan Jakarta Selatan dalam organisasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Dalam pelaksanaan tugas POLRI tingkat polsek, dibutuhkan manajemen operasional yang tepat untuk menentukan keputusan dalam menghadapi suatu permasalahan yang kompleks terkhusus dalam wilayah DKI Jakarta.

            Adapun cara yang tepat dalam pengambilan keputusan  dalam tingkat polsek dibutuhkan manajemen operasional yang efektif, dan efisien untuk mendukung kredibilitas kinerja dan performa POLRI yaitu dengan penerapan DSS atau decision support system yang sebagai jurnal keputusan melalui sistem informasi manajemen, sehingga prosedural POLRI dalam pelaksanaan tugas dapat terlaksana dengan baik.

            Dalam mendukung manajemen POLRI dalam manajemen operasional tingkat polsek dalam wilayah DKI Jakarta diperlukan sistem operasional Polsek, yang berupa struktur organisasi polsek antara lain :

SISTEM OPERASIONAL POLSEK

1. Markas polsek : Mapolsek Metropolitan Pancoran

2. Unsur pimpinan : Kapolsek dan Wakapolsek Pancoran

3. Unsur pelaksana utama : unit intelkam, unit reskrim,  unit patroli, unit narkoba dimana masing masing unit dipimpin oleh kanit

4. unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf : SPK, pusiknas, taud

5. unsur kewilayahan : kapospol yang terdiri dari kapospol kalibata indah dan kapospol tmp kalibata

 Image

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

            Dalam prosedur pengambilan keputusan menurut Herbert A Simon yaitu ahli pemenang nobel dan carnegie mellon university ada dua jenis keputusan yang dikaitkan dalam contoh menghadapi pengamanan kamtibmas wilayah kecamatan Pancoran Dki Jakarta

1. Jenis Keputusan

  1. Keputusan terprogram

            Keputusan ini bersifat pengulangan dan rutin sampai pada batas hingga suatu prosedur pasti telah dibuat untuk menanganinya sehingga keputusan tersebut tidak perlu dilakukan de novo (sebagai sesuatu yang baru) tiap kali terjadi.

            Keputusan yang demikian dalam polsek metro pancoran merupakan protap atau program tetap dalam menghadapi situasi kamtibmas. Apabila terjadi perubahan itu merupakan evolusi atau penyempurnaan untuk memperbaiki protap yang ada sebagai upaya polsek metro pancoran untuk menciptakan situasi yang lebih kondusif.

  1. Keputusan tak terprogram

            Keputusan ini bersifat baru tidak terstruktur dan jarang konsekuen. Tidak ada metode yang pasti untuk menangani masalah ini, karena belum pernah ada sebelumnya atau karena sifat dan struktur persisnya tidak terlihat atau rumit, atau karena begitu pentingnya sehingga memerlukan perlakuan yang sangat khusus.

            Sebagai contoh dalam polsek metro apabila seorang kanit reskrim dihadapkan pada situasi urgen dan segera, kanit reskrim langsung ambil tindakan sebagai pencegahan pada tersangka tertangkap tangan dan melaporkan pada kapolsek setelah penindakan dan membuat laporan untuk mencegah terjadinya pelarian diri atau disersi oleh tersangka

2. Tingkatan manajemen dalam pengambilan keputusan

            Berdasarkan kewenangan dan tanggung jawabnya, pengambilan keputusan tingkat Polsek disesuaikan dengan tingkatan manajemennya. Tingkatan manajemen tingkat Polsek terdiri dari tiga tingkatan yaitu:

a. Tingkat manajemen pengendalian operasional.

            Pengendalian operasional merupakan tugas dan tanggung jawab komandan pelaksana lapangan. Di tingkat Polsek biasa dipegang oleh kapolsek atau wakapolsek

b. Tingkat manajemen pengendalian manajemen.

            Pengendalian manajemen di tingkat Polsek dibidangi oleh kanit reskrim, kanit narkoba, kanit patroli, kanit intelkam terkait masing masing fungsi

c. Tingkat manajemen pengendalian strategis.

            Tingkat manajemen pengendalian strategis adalah menjadi tanggung jawab penuh dari Kapolsek

3. Tahap-tahap Pengambilan Keputusan

            Menurut Simon dalam pengambilan keputusan, terdiri dari empat tahap, yaitu:

  1. Kegiatan Intelijen

      Mengamati Lingkungan untuk mengetahui kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki. Kegiatan ini di tingkat Polsek biasa dilakukan oleh unit  Intelijen, yaitu mencari data awal, kondisi di lapangan, membandingkan dengan kontijensi masa lalu dan memprediksikan situasi pada pelaksanaan pengamanan kamtibmas. Data awal inilah yang menjadi acuan rancangan/rencana pengamanan pada pelaksanaan pengamanan kamtibmas.

  1. Kegiatan merancang

      Menemukan, mengembangkan dan menganalisis berbagai alternatif tindakan yang mungkin. Hal ini dilakukan setelah mendapatkan produk tertulis dari Sat Intelijen yang kemudian produk ini disusun sebagai suatu produk yang dinamakan program tetap dalam pemilihan tersebut. Dalam produk ini dijelaskan antara lain kebutuhan materil, logistik, dan personel serta teknik dan taktik pengamanan.

  1. Kegiatan memilih

      Memilih satu rangkaian tindakan tertentu. Merupakan suatu kebijakan dari Kapolsek, Wakapolsek, atau Perwira lain yang sesuai perintah atasan sebagai penanggung jawab operasi pengamanan.

  1. Kegiatan menelaah

      Menilai pilihan-pilihan yang lalu. Kegiatan ini dilakukan secara berdiskusi bersama dalam forum Gelar Operasional dari tingkat Polsek, Pospol.

4. Manajemen Gelar Operasional sebagai DSS

            Sistem Pendukung Keputusan atau Decision Support System (DSS) sebagi suatu cara yang digunakan oleh manajer dalam pemecahan masalah. DSS menyediakan Informasi pemecahan masalah maupun kemampuan komunikasi dalam memecahkan masalah semi-terstruktur.

            Dalam rangka menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif diperlukan cara dan upaya untuk memecahkan permasalahan kamtibmas wilayah pancoran yang disebut manajemen gelar operasional sebagai wujud dari decision support system yaitu dengan rapat kelompok atau diskusi kelompok. Kelompok tingkat polsek dipimpin oleh kapolsek dan wakapolsek beserta para kepala satuan unit. Pertama- tama dimulai dari kepala unit intelijen yang melaporkan situasi dan data awal dilenjutkan dengan adanya patroli oleh kanit patroli dan penindakan oleh pimpinan kanit reskrim dan apabila ditemukan narkoba atau obat obat terlarang digunakan maka dibawah pimpinan kanit narkoba dilakukan penggerebekan.

            Gelar Operasional ini sangat efektif dalam penyusunan rencana kegiatan, serta menganalisa serta evaluasi hasil kegiatan, dan sarat akan saran, koreksi, dan masukan-masukan yang bersifat membangun. Mula-mula dari kelompok kecil, yaitu tingkat Polsek dan Sat Fung, dicari solusi pemecahannya, lalu dibawa ke forum Gelar manajemen Operasional yang lebih besar, baik yang diselenggarakan oleh tingkat Polres, Polwil, maupun Polda dengan dihadiri oleh instansi terkait yang merupakan koordinasi untuk menciptakan wilayah hukum polda metro jaya dalam situasi kamtibmas yang diharapkan.

Posted in POLRI | Tagged , , | Leave a comment